Tulisan Jerinx Ini Menjadi Viral : Apa Yang Saya Lakukan Jika Agama Saya Dihina?



Tanggal 4 November 2016 dilakukan demo besar-besaran di Jakarta, mereka menuntut agar calon Gubernur Bauski Tjahaja Purnama (Ahok) ditangkap. Terkait demo ini, musisi I Gede Ari Astina atau yang biasa disapa Jerinx asal Bali memposting tulisan yang menjadi viral di Facebook. Tulisan Jerinx ini berjudul 'apa yang saya lakukan jika agama saya dihina?'.
Jerinx memposting tulisannya itu di Facebook, Jumat (4/11/2016). Di tulisannya, Jerinx meminta agar kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dilaporkan ke polisi atas tudingan penistaan agama disikapi secara jernih. Seharusnya dilihat apakah Ahok sudah benar-benar terbukti menghina agama terkait ucapan soal Surat Al Midah ayat 51 atau belum. Juga kenapa pula ada pihak yang pro dan kontra terhadap Ahok? Seperti diketahui, proses hukum kasus ini masih berjalan di Bareskrim Polri.

Jerinx menyebut ada banyak keganjilan dalam kasus ini, apalagi menjelang momen Pilgub 2017. Dia menilai ada pihak-pihak yang mempolitisir ucapan Ahok terkait Surat Al Maidah ayat 51, sehingga memicu demonstrasi massa 4 November ini.
Jerinx juga mengemukakan contoh masyarakat Indonesia terutama di Bali yang berbeda-beda agama tidak terpecah belah pasca peristiwa bom bali 1 dan 2 yang dilakukan oleh teroris yang mengatasnamakan agama. Saat itu tidak ada sentiman agama, justru semua umat bersatu dan saling bahu membahu mmebantu pemulihan Bali. Menurut drummer band Superman Is Dead (SID) ini, setelah aksi bom Bali 1 dan 2 tidak ada aksi demo. Tidak ada pula aksi menolak agama tertentu di Bali.
Pukul 12.36 WIB, postingan tulisan Jerinx di Facebook ini mendapat likes dari 22 ribu lebih netizen dan dishare oleh hampir 12 ribu netizen. Komentar bernada pro dan kontra pun bermunculan.
Berikut tulisan lengkap Jerinx:
Apa yang akan saya lakukan jika agama saya dihina? Saya akan diam. Kenapa? Karena saya percaya Tuhan maha kuasa.
Ingat ya, Bali dibom dua kali oleh orang-orang yang mengatasnamakan sebuah agama, menganggap Bali sebuah tempat yang 'kotor dan layak dilenyapkan'. Tapi apa yang terjadi setelah bom-bom tersebut? Enggak ada yang namanya demo atau aksi menolak agama tertentu di Bali. Yang terjadi malah saling bantu untuk memulihkan Bali.
Sekarang bayangkan, jika saya dan orang-orang Bali lainnya berpola pikir "wah, agama itu memusuhi agama/budaya saya, dan agama saya mengajarkan saya untuk membalas dendam dan membunuh orang-orang tersebut" bisa kamu bayangkan apa yang akan terjadi?
Ya. Perang. Perang. Dan perang. Darah. Air mata. Kehancuran. Lalu? Masuklah asing dengan propaganda 'mendamaikan' konflik dan mengambil alih semua SDA yang dimiliki bangsa ini. Kasus seperti itu sudah banyak terjadi di belahan bumi lain.
Dan cara yang paling gampang untuk mencegah semua itu adalah: berhentilah menjadi pembela agama. Simpan agamamu untuk dirimu sendiri. Untuk apa percaya Tuhan itu Maha Kuasa jika kamu masih menyangsikan kekuatannya?
Salam Indonesia Raja!

Istri Itu Tulang Rusukmu, Jangan Jadikan Dia Tulang Punggung, Mereka Itu Pendampingmu Bukan Babu!


Di Subuh yang dingin...ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.

"Ibu masak apa? Bisa ku bantu?"

"Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak" sahutnya.

"Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh..."

"Iya terus kenapa..?" Sahut Ibu.

"Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe"

"Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?"

Aku menatap Ibu dengan tak paham.

Lalu beliau melanjutkan, "Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri." katanya sambil menyentil hidungku.

"Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?"

"Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami." kata Ibu.

"Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya"

Saya makin bingung Bu.

"Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah."

Beliau berbalik menatap mataku.

"Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?" tanya Ibu.

"Iya tentu saja Bu.."

"Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami."

Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.

"Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?"

"Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu."

Aku hanya diam terpesona

"Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri."

"Iya Buu..."

Aku mulai paham,
"Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri."

Ibuku tersenyum.

"Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?"

"Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga"

"MasyaAllah.... eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?"

"Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya."

Subhanallah...

Semoga yang mengucapkan 'Aamiin' diberikan jodoh yang baik oleh Allah SWT, sehingga mampu membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah, serta kelak dimasukkan ke dalam surga yang terindah. Aamiin..

Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang

Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang
Yuniati yang berhasil sekolahkan anaknya hingga S3 di Jepang (Fathi Mahmud/Liputan6.com)
Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang

Perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya memang patut dibanggakan. Di tengah kondisinya yang serba sederhana, mereka dengan gigih mampu menyekolahkan anak-anak.

Seperti itu juga yang dilakukan oleh seorang ibu bernama Yuniati, seorang buruh cuci yang berpenampilan sederhana. Di rumahnya yang berada di Pandan Kulon 07/12 Imogiri Yogyakarta, ia setiap hari harus mencuci pakaian orang lain untuk bisa bertahan hidup.

Profesi tersebut telah dilakukan oleh Yuniati sejak tahun 1985 karena kondisi suaminya yang tidak memiliki pekerjaan. Bahkan selain mencuci, ia juga kerap membuka jasa menyetrika dan membantu mengurus anak orang lain.

“Dulu nyuci di Bintara mencuci baju anak kos. Sekarang buruh cuci sama mengasuh anak. Jadi kasarnya seperti pembantu. Menjadi buruh cuci saya lakukan sejak awal menikah karena suami tidak memiliki pekerjaan. Prinsip saya cuma satu, tidak punya hutang,” ucapnya sebagaimana dilansir dari Liputan6, Jum’at (10/09/2015).

Tak hanya untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, Yuniati juga menjadikan usahanya tersebut untuk menyekolahkan kedua anaknya.

“Saya tidak ingin kaya, tidak ingin hidup mewah, tapi anak saya harus sekolah,” tuturnya.

Ternyata berkat kerja kerasnya membanting tulang, Yuniati mampu menyekolahkan anak sulungnya hingga ke jenjang S3 di Hokaido Jepang. Putranya yang bernama Satya Chandra Wibawa itu sebelumnya telah berhasil lulus S1 dan S2 di dua universitas negeri bergengsi di pulau Jawa.

Memang sang anak mampu bersekolah cukup tinggi karena adanya beasiswa. Sementara sang ibu hanya bisa membantu di awal masuk sekolah saja. Selebihnya anaknya yang berusaha mendapatkan bantuan lewat prestasinya.

“Satya itu masuk kuliah 2004, UNY Jurusan Kimia. Lalu S2 UGM Kimia juga dan S3 Hokaido Jepang juga Kimia. Semua beasiswa,” kenangnya.

Bukan tanpa halangan, Yuniati kerap mendapatkan cibiran dari tetangganya karena berani menyekolahkan anak hingga masuk universitas. Meskipun begitu, ia tidak ambil pusing dan tetap berusaha sekemampuannya.

Baginya sekolah anaknya lebih penting dibandingkan kebutuhan lain sehingga ia bahkan rela tidur di terpal meski mendapatkan bantuan saat gempa 2006.

“Gempa 2006 dapat bantuan 15 juta tidak digunakan untuk bangun rumah. Untuk biaya kuliah adiknya. Saya tidur di terpal. Yang penting anak saya masuk kuliah,” tambahnya.

Kini hasil perjuangannya membuahkan hasil yang indah dimana selain anak sulungnya yang kuliah S3 di Jepang, anak bungsunya pun tengah menjalani kuliah di Akper Bethesda Yogyakarta.

Inilah Sungai Penghapus Dosa, Rasulullah Memerintahkan Kita Mandi Di Dalamnya Tiap Hari

Tahukah Anda bahwasanya ada sebuah sungai jernih yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Rasulullah memerintahkan kita untuk mandi dengannya lima kali sehari.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?" Mereka menjawab, "Tidak ada!" Rasulullah berkata, "Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus semua kesalahan." (Muttafaq 'Alaih)

Inilah Sungai Penghapus Dosa, Rasulullah Memerintahkan Kita Mandi Di Dalamnya Tiap Hari
Ilustrasi


Seperti kita ketahui bahwa Shalat adalah "komunikasi langsung" antara hamba dengan sang Khaliq. Langsung karena tidak boleh "diwakilkan" oleh orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apapun, karena ia sarana percakapan hamba dengan penciptanya.

Sungguh indah kehidupan seorang muslim dengan Allah. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti dhuha, witir, tahajud, hajat, dan sebagainya. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan kepada-Nya.

Shalat, menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim.

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali." (HR Muslim).

Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah kepada kita. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran di sungai "penghapus dosa". Tidak ada kenikmatan, selain kenikmatan bermunajat kepada Allah lewat shalat. Shalat dijadikan oleh Rasulullah SAW sebagai "permata hati" (qurah 'ain).

Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Bilal, "Ya Bilal! Aqim al-shalah wa arihna biha (Hai Bilal! Dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya). Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah "shalat" (HR Ibnu Majah).

Pertanyaannya adalah: shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai "sungai penghapus dosa" itu?

Pertama, shalat yang senantiasa dilakukan di awal waktunya. Shalat inilah yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas 'ud: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam "Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya!" Aku bertanya lagi, "Lalu apa?" "Berbakti kepada kedua orangtua," jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah" (Muttafaq 'Alaih).

"Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla melipatgandakan pahala kalian" (HR.Al-Thabrani)

Kedua, shalat yang khusyu'. Shalat yang khusyu' adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat "kesuksesan" dari Allah. Karena khusyu' dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim yang mengerjakan shalat. Meskpun khusyu' itu boleh dikatakan tidak merata alias relatif. Namun, berusaha untuk khusyu' dalam shalat adalah usaha yang sangat baik. Allah SWT berfirman, "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya." (Qs. Al-Mu'minun: 1-2).

Tentunya untuk khusyu' ada kiat-kiat khusus di dalamnya. Di antaranya adalah dengan cara "memperbaiki cara berwudhu". Wudhu yang tidak sempurnya, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan.

"Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian ia memperbagus wudhu'nya, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat. Dengan dua rakaat itu ia benar-benar menghadapkan hatinya dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga." (HR Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya." Mereka bertanya, "Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?" Beliau menjawab, "Ruku' dan sujudnya tidak sempurna" (HR Ahmad). Inilah mungkin model shalat "patok ayam".

Selain itu, shalat yang khusyu' adalah "media" untuk menggapai ampunan Allah SWT. Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhu'nya. Kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib (maktûbah) atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku dan sujud dengan baik kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya." (HR. Al-Thabrani).

Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas. Amal adalah "jasad", dan ruhnya adalah "ikhlas". Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat orang sebagai orang yang rajin shalat adalah shalat yang hanya menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk "ikhlas" dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekedar "menggugurkan" kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan.

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama..." (Qs. Al-Bayyinah: 5).

Insya Allah, shalat yang demikian adalah shalat yang diibaratkan oleh Rasulullah sebagai 'sungai' sungai penghapus dosa, yang menghanyutkan kesalahan kita. Tentunya dosa bukan karena hak adami, Namun karena dosa-dosa kita terhadap Allah subhanahu wata'ala.

Semoga shalat yang kita lakukan selama ini menjadi shalat yang benar-benar diterima oleh Allah SWT, sehingga dosa-dosa dan kesalahan kita terhadap Allah "layak" untuk dihapus dan dihanyutkan.

Wallahu a'lam bisshawab.

VIDEO: Lafadz Allah Terekam Jelas Di Langit Jakarta Saat Aksi Bela Islam II

Dalam gelaran Aksi Bela Islam II pada hari Jumat (4/11/2016) kemarin, banyak terjadi hal yang diluar nalar manusia. Salah satunya seperti perubahan cuaca Jakarta yang awalnya diprediksi oleh BMKG akan turun hujan lebat disertai petir. Ternyata justru saat itu cuaca tidak panas dan tidak hujan, bahkan terkesan sejuk.

VIDEO: Lafadz Allah Terekam Jelas Di Langit Jakarta Saat Aksi Bela Islam II

Tak hanya itu saja, sebuah peristiwa yang mengejutkan juga terjadi di langit Jakarta dimana sebuah lafadz Allah secara jelas terlihat oleh para peserta Aksi Bela Islam II. Momen langka yang menunjukkan kebesaran Allah itu pun tidak dilewatkan oleh umat Islam.

Salah satunya seperti dilakukan oleh pemilik akun Facebook Ainul da Leo yang mengabadikan lewat rekaman video berdurasi 16 detik. Nampak terlihat umat muslim lainnya juga menyaksikan fenomena tersebut.

Hal itu pun semakin menambah keyakinan umat muslim bahwa perjuangan mereka untuk menegakkan keadilan ada dalam naungan Allah Ta’ala.

Berbagai komentar kemudian bermunculan dan sebagian besar mengucapkan ‘Allahu Akbar’.

Simak videonya


Nekat Menikah di Usia Muda, Sally dan Suaminya Kini Jadi Miliuner

Adalah Sally Giovani. Salah satu Muslimah inspiratif yang nekat menikah dengan kawannya semasa sekolah di usia yang sama. Kala itu, Banyak yang memicingkan mata, namun sekarang, dunia takjub melihat kesuksesan yang telah diraih oleh Sally dan suaminya.

Nekat Menikah di Usia Muda, Sally dan Suaminya Kini Jadi Miliuner
Nekat Menikah di Usia Muda, Sally dan Suaminya Kini Jadi Miliuner

Berada dalam lingkungan keluarga broken home, Pantang bagi Sally untuk menyerah pada keadaan. Kehidupan bersama ibunya yang single parent menjadi amunisi semangat bagi muslimah asal Cirebon Jawa Barat ini. Tepat setelah lulus sekolah menengah atas, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya; menikah di usia muda, yakni tujuh belas tahun.

Memulai Usaha

Dalam sebuah acara di televisi swasta, Sally Giovani menceritakan kisah hidupnya, Awalnya ia dan suami memulai bisnisnya dengan berjualan kain kafan. Terlihat aneh memang, tapi insting bisnisnya mengatakan bahwa ini adalah bisnis yang berprospek, Karena kain kafan sudah pasti dibeli, sangat dibutuhkan dan sangat sedikit pesaingnya.

Seiring waktu berjalan, sepasang suami istri ini merasakan dampak lesunya pasar kain kafan. Pasalnya memang tidak ada repeat order, jarangnya pembeli, dan kendala bisnis lainnya.

Sally dan suami akhirnya melakukan berbagai inovasi dalam bisnisnya. Ia berkeliling menawarkan kain kafan ke sekitar rumahnya. Karena saat itu ia memang tinggal dan menetap di sekitar para pengrajin batik.

Mengawali Semuanya Dari Nol

Sally menuturkan, sebagian besar bahan untuk membuat batik katun adalah kain kafan. Dia pun berkeliling memasarkan kain kafan kepada para pengrajin batik. Dari berkeliling ke orang-orang di sekitar itulah dia mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Dia banyak bertanya pada pengrajin batik tentang jenis-jenis batik sampai cara membuatnya. Dari situlah, ia akhirnya bisa menguasai cara membuat berbagai jenis batik dengan tangan terampilnya.

Jualan Tidak Laku

Tahun 2007, Sally mencoba peruntungan dengan memasarkan batik kreasinya di Tanah Abang Jakarta. Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Ibu Kota ini, Sally harus gigit jari. Batiknya tidak laku.

Karena memang dasar orang kreatif, ia pun bertanya ke penjual-penjual yang batiknya laris. Dibelilah beberapa jenis, dibawa pulang ke Cirebon, dipelajari, dan dibuatlah motif yang agak mirip.

Suka Duka Perjuangan

Berhasil memodifikasi kreasi batik yang ia beli, Sally kembali datang ke Tanah Abang dengan penuh percaya diri. Batik buatannya pun laris manis diserbu pembeli.

Tidak hanya di Tanah Abang, Sally juga memasarkan batiknya di Pasar Baru, Bandung, dan berbagai kota di Indonesia termasuk Bali.

Dalam perjalanan memperjuangkan cita-citanya tersebut, Tak jarang dia dan suami harus tidur di mushalla, masjid, mandi di kamar mandi pom bensin, ketiduran di jalan, dan sebagainya.

Kesuksesan Luar Biasa

Sally Giovani dengan Trusmi Grup-nya dinobatkan oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) menjadi miliuner muda Di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun. Ketika itu, Sally telah memiliki pusat perbelanjaan seluas satu setengah hektar. Belum lagi sepuluh outlet yang tersebar di sepuluh kota besar negeri ini.

Dalam perusahaannya itu, Sally memiliki lebih dari delapan ratus karyawan. Jika digabung dengan semua pengrajin batiknya, jumlahnya sekitar seribu dua ratus lima puluh orang.

Namun, jumlah itu belum cukup. Sally yang kini belum genap berusia tiga puluh tahun, masih menyimpan cita-cita nan tinggi menjulang. “Saya ingin memiliki satu juta karyawan. Agar bisnis saya bisa bermanfaat bagi orang lain.” tutur Sally.

Kiat Sukses

Sally menjelaskan beberapa kiat bagi semua orang agar sukses, kiat pertama dalam bisnis adalah berani memulai. Ia mengharamkan dua kata kepada dirinya dan siapa pun yang ingin menjadi pebisnis sukses. Ialah ‘tapi’ dan ‘nanti’.

Jangan sampai berkata, “Aku pingin bisnis, tapi belum ada modal.” Atau, “Nanti sajalah bisnisnya. Usia juga masih muda. Masih belajar.”

Selanjutnya adalah, pantang menyerah. Terus berproses dan Jangan pernah berhenti. Belajar dari kegagalan untuk merumuskan langkah menuju sukses. Tentu dengan dibarengi kesungguhan di setiap proses dan doa yang tidak boleh berhenti.

Melebarkan Sayap

Sally menceritakan, bahwa bisnis batik trusmi ini langsung dikelola oleh dirinya dan suami. Ketika sudah tertata rapi dari segi manajemen hingga pemasaran, Sally mengaku bahwa suaminya ingin memulai bisnis yang berbeda.

Sang suami pun belajar di hal lain dan kini sudah terjun di dunia bisnis properti. Membuat perumahan, aparteman, dan jenis properti lainnya.

Dari kisah nyata kesuksesan Sally diatas, Hendaknya kita mengambil pelajaran, bahwa menikah bukanlah suatu hambatan sebagaimana disampaikan oleh banyak oknum yang tidak bertanggungjawab. Jika menikah dan menjalani hidup rumah tangga dengan benar, kesuksesan insyaallah adalah jaminannya.

Sally dan suaminya kini telah membuktikan. Betapa nekat menikah di usia tujuh belas tahun adalah cara nan jitu untuk menikmati keseruan, nikmat lahir dan batin, juga efektif dalam menggapai kesuksesan hidup.

Belum lagi pahalanya. Masya Allah.

Wallahu a’lam.

Singkirkan TV dari rumah, Ibu ini sukses didik 10 anaknya hafal quran

Siapa yang tak ingin memiliki anak yang hafal alquran? Tampaknya semua orangtua yang beragama Islam memiliki cita-cita tersebut. Namun hal tersebut memang tidak mudah, butuh kesabaran yang amat tinggi dan konsistensi untuk waktu yang lama. Namun itulah yang dilakukan Wirianingsih beserta suaminya Mutammimul Ula, mereka berdua mendidik dari kecil anak-anaknya untuk dekat dengan alquran.




Wanita kelahiran Jakarta, 11 September 1962 ini, selain sebagai ibu rumah tangga, juga seorang dosen. Dengan ketekunan dan kesabarannya, Wirianingsih diberikan kemudahan membuat 10 anaknya hafal alquran. Siapa saja ke 10 anak tersebut? Dikutip dari 10 Bersaudara Bintang alquran yang ditulis Izzatul Jannah dan Irfan Hidayatullah kesepuluh anak tersebut ialah:

Anak pertama, Afzalurahman Assalam yang hafal alquran pada usia 13 tahun. Faris Jihady Hanifah sebagai putra kedua yang hafal alquran pada usia 10 tahun. Adapun Maryam Qonitat anak ketiga hafal alquran sejak usia 16 tahun. Selanjutnya Scientia Afifah Taibah anak keempat yang hafal 29 juz sejak SMA. Sedangkan anak kelima ialah Ahmad Rasikh 'Ilmi yang hafal 15 juz alquran saat duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan.

Selanjutnya anak keenam, Ismail Ghulam Halim yang hafal 13 juz dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Anak ketujuh yaitu Yusuf Zaim Hakim ia hafal 9 juz alquran dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor.


Kemudian Muhammad Syaihul Basyir, putra kedelapan, dulunya ia duduk di MTs Darul Quran, Bogor. Ia sudah hafal alquran 30 juz pada saat kelas 6 SD. Dua anak terakhir yaitu, Hadi Sabila Rosyad, dulunya ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz alquran dan Himmaty Muyassarah sebagai putri terakhir ia hafal 2 juz alquran pada saat duduk di SD.

Lalu apa sebenarnya metode yang Wirianingsih terapkan dalam mendidik anak-anaknya? Kuncinya adalah keseimbangan dan kesinambungan proses. Meski kedua orangtuanya sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas maghrib jadwal mereka adalah berinteraksi dengan alquran dan tidak boleh ada agenda lain, kecuali benar-benar sesuatu yang tak bisa ditinggalkan.

Bahkan demi menjaga tradisi tersebut, Wirianingsih rela menyingkirkan televisi dari rumahnya dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga serta masyarakat. "Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang alquran adalah visi dan konsep yang jelas," ujar Izzatul dalam bukunya.

Demi memenuhi keinginannya memiliki anak yang hafal alquran, Wirianingsih beserta suami sepakat jika usai subuh dan maghrib dijadikan waktu khusus untuk alquran yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih balita, Wirianingsih pun konsisten membaca alquran di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya.

"Ketiga, mengomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal alquran sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal alquran, mereka diberi hadiah. Barangkali semacam reward atas pencapaian mereka. Mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci," imbuh Izzatul dalam bukunya yang diterbitkan Sygma Publishing pada Januari 2010 itu.

Nah, setelah membaca kisah ini, kamu tertarik untuk mendidik anak seperti yang dilakukan Wirianingsih dan suaminya? Memang bukan hal mudah, namun itu jelas bukan hal mustahilkan? (brilio.net)